Posted by Aak
Aak-share.com Updated at: 11:13:00 PM

Belajar Membaca Al-Quran Dengan Tajwid

No comments:

Pengertian Tajwid

Tajwid menurut lughot (etimologi) adalah mendatangkan atau membaca dengan baik. Sedangkan menurut istilah (terminologi) adalah Ilmu yang dengannya kita dapat mengetahui bagaimana cara mengucapkan huruf-huruf Al-qur’an, baik tebal tipisnya, panjang pendeknya (mad-qosnya), sifat-sifatnya, serta cara membacanya dengan baik.
Faedah (Kegunaan) Ilmu Tajwid
Faedah mempelajari Ilmu Tajwid adalah supaya lidah kita terjaga dari kesalahan didalam membaca Kitabullah (Al-qur’an).
Hukum Mempelajari Tajwid
Hukum mempelajari Ilmu Tajwid adalah Fardlu Kifayah, sedang mengamalkannya adalah Fardlu ‘Ain bagi tiap-tiap kaum muslimin dan muslimat yang sudah mukallaf.

Didalam kitab Jazariyah Ta’lif Abil Khoir Syamsuddin Muhammad Ibn Muhammad Al-Jazari sebagai berikut :

ﻮﺍﻻﺨﺬ ﺒﺎﻠﺘﺠﻮﻴﺪ ﺤﺘﻢ ﻻﺰﻢ ۞ ﻤﻦ ﻠﻡ ﻴﺠﻮﺪ ﺍﻠﻘﺮﺍﻦ ﺃﺜﻢ

Artinya : Menggunakan atau mengamalkan ilmu tajwid adalah merupakan kewajiban yang pasti (fardlu ‘ain), barang siapa yang tidak memperbaiki bacaan Al-qur’an maka ia berdosa.
Methode Membaca
Tata cara membaca Al-qur’an yang disahkan oleh Nabi Muhammad SAW dan berlaku dikalangan Ulama Qorro’ dan Ahlu ‘Ada yaitu ada empat cara yang berlaku, yaitu :
1.      Tahqiq (ﺘﺤﻘﻴﻖ) yaitu membaca Al-qur’an dengan menempatkan hak-hak huruf yang semestinya (makhrajul huruf, sifat-sifat huruf, mad-qosr, dll).
Methode ini baik sekali untuk kalangan mubtadi’in (bagi yang baru belajar membaca Al-qur’an).
2.      Tartil (ﺘﺮﺘﻴﻞ) yaitu membaca Al-qur’an dengan pelan-pelan (tidak tergesa-gesa) sebagaimana bacaan Muhammad Al-Qushoiri. Bacaan tartil ini belum tentu Tahqiq tetapi tahqiq sudah pasti tartil.
3.      Tadwir (ﺘﺪﻮﻴﺮ) yaitu membaca Al-qur’an dengan sedang (antara cepat dan pelan).
4.      Hadr (ﺤﺪﺮ) yaitu membaca Al-qur’an dengan cepat, semua methode bacaan tersebut diatas wajib menggunakan tajwid dengan menyesuaikan bacaannya (tahqiq, tartil, tadwir, atau hadrnya), bagi kita yang paling adalah Tarqiq.

Dalam membaca Al-Quran agar dapat mempelajari, membaca dan memahami isi dan makna dari tiap ayat Al-Quran yang kita baca, tentunya kita perlu mengenal, mempelajari ilmu tajwid yakni tanda-tanda baca dalam tiap huruf ayat Al-Quran. Guna tajwid ialah sebagai alat untuk mempermudah, mengetahui panjang pendek, melafazkan dan hukum dalam membaca Al-Quran.
Tajwīd (تجويد) secara harfiah mengandung arti melakukan sesuatu dengan elok dan indah atau bagus dan membaguskan, tajwid berasal dari kata ” Jawwada ” (جوّد-يجوّد-تجويدا)dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara melafazkan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran maupun Hadist dan lainnya.

Arti lainnya dari ilmu tajwid adalah melafazkan, membunyikan dan menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari tiap-tiap bacaan dalam ayat Al-Quran. Menurut para Ulama besar menyatakan bahwa hukum bagi seseorang yang mempelajari tajwid adalah Fardhu Kifayah, yakni dengan mengamalkan ilmu tajwd ketika memabaca Al-Quran dan Fardhu ‘Ain atau wajib hukumnya baik laki-laki atau perempuan yang mu’allaf atau seseorang yang baru masuk dan mempelajari Islam dan KitabNya.
Mengenal, mempelajari dan mengamalkan ilmu tajwid berserta pemahaman akan ilmu tajwid itu sendiri merupakan hukum wajib suatu ilmu yang harus dipelajari, untuk menghindari kesalahan dalam membaca ayat suci Al-Quran dan melafazkannya dengan baik dan benar sehingga tiap ayat-ayat yang dilantunkan terdengar indah dan sempurna.
Berikut ini ada dalil atau pernyataan shahih dari Allah SWT yang mewajibkan setiap HambaNya untuk membaca Al-Quran dengan memahami tajwid, diantaranya :

1. Dalil pertama di ambil dari Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam ayatNya yang artinya “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil (bertajwid)”[QS:Al-Muzzammil (73): 4]. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca Al-Quran yang diturunkan kepadanya dengan tartil, yaitu memperindah pengucapan setiap huruf-hurufnya (bertajwid).
2. Dalil kedua diambil dari As-Sunnah ( Hadist ) yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a.(istri Nabi Muhammad SAW), ketika beliau ditanya tentang bagaimana bacaan Al-Quran dan sholat Rasulullah SAW, maka beliau menjawab: ”Ketahuilah bahwa Baginda S.A.W. Sholat kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi, kemudian Baginda kembali sholat yang lamanya sama seperti ketika beliau tidur tadi, kemudian tidur lagi yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi hingga menjelang shubuh. Kemudian dia (Ummu Salamah) mencontohkan cara bacaan Rasulullah S.A.W. dengan menunjukkan (satu) bacaan yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu persatu.” (Hadits 2847 Jamik At-Tirmizi).
3. Dalil ketiga diambil dari Ijma atau pendapat para ulama besar Islam. Yakni kesepakatan para ulama yang dilihat dari zaman Rasulullah SAW hingga sampai saat ini, yang menyatakan bahwa membaca Al-Quran dengan ber-Tajwid merupakan hukum atau sesuatu yang fardhu dan wajib.

Hukum-hukum dalam tajwid beserta komponen ilmu tajwid yang harus dikenal dipelajari, dipahami serta diamalkan dalam membaca Al-Quran, antara lain :
I. HUKUM MEMBACA ISTI’ADZAH, BASMALAH
DAN SURAT
A.          Hukum Membaca Isti’adzah
Seseorang qorri’ (pembaca Al-qur’an) bila ia hendak membaca Al-qur’an, baik pada awal surat maupun di tengah-tengahnya, maka ia sunnah membaca ta’awwudz’ (doa minta perlindungan kepada Allah dari godaan Syaitan).
Adapun dasar pengambilannya adalah Firman Allah pada surat An-Nahl ayat 98 juz 14.         
ﻔﺈﺬﺍ ﻘﺮﺃﺖ ﺍﻠﻘﺮﺍﻦ ﻔﺎﺴﺘﻌﺬ ﺒﺎﷲ ﻤﻦﺍﻠﺸﻴﻄﺎﻦ ﺍﻠﺠﻴﻢ

Artinya : Apabila kamu membaca Al-qur’an, hendaklah kamu minta perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

Adapun lafadz isti’adzah yang asli dari Rasulullah SAW adalah :
ﺃﻋﻮﺬ ﺒﺎﷲ ﻤﻦﺍﻠﺸﻴﻄﺎﻦ ﺍﻠﺠﻴﻢ

Dan dikalangan ulama qurro’ timbul beberapa lafadz isti’adzah antara lain sebagai berikut :

ﺃﻋﻮﺬ ﺒﺎﷲ ﻤﻦﺍﻠﺸﻴﻄﺎﻦ ﺍﻠﺠﻴﻢ
ﺃﻋﻮﺬ ﺒﺎﷲ ﺍﻠﻌﻈﻴﻢ ﻤﻦﺍﻠﺸﻴﻄﺎﻦ ﺍﻠﺮﺠﻴﻢ
ﺃﻋﻮﺬ ﺒﺎﷲ ﺍﻠﺴﻤﻴﻊ ﺍﻠﻌﻠﻴﻢ ﻤﻦﺍﻠﺸﻴﻄﺎﻦ ﺍﻠﺮﺠﻴ

B.           Tata Cara Membaca Isti’adzah, Basmalah dan Surat
Adapun tata cara dalam membaca Isti’adzah Basmalah dan Surat memiliki 4 (empat) wajah/cara yang diperbolehkan munurut Hafs’an Ashim yaitu :


1.      Memutus semua, contoh :
ﺍﻋﻮﺬﺒﺎﷲﻤﻦﺍﻠﺸﻴﻄﺎﻦﺍﻠﺮﺠﻴﻢ۞ﺒﺴﻡﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻢ۞ﺍﻠﺤﻤﺪﷲ

2.      Menyambung basmalah dengan surat saja, contoh :
ﺍﻋﻮﺬﺒﺎﷲﻤﻦﺍﻠﺸﻴﻄﺎﻦﺍﻠﺮﺠﻴﻢ۞ﺒﺴﻡﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻢﺍﻠﺤﻤﺪﷲ

3.      Menyambung Isti’adzah dengan Basmalah, contoh :
ﺍﻋﻮﺬﺒﺎﷲﻤﻦﺍﻠﺸﻴﻄﺎﻦﺍﻠﺮﺠﻴﻢﺒﺴﻡﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻢ۞ﺍﻠﺤﻤﺪﷲ

4.      Menyambung semua, contoh :
ﺍﻋﻮﺬﺒﺎﷲﻤﻦﺍﻠﺸﻴﻄﺎﻦﺍﻠﺮﺠﻴﻢﺒﺴﻡﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻢﺍﻠﺤﻤﺪﷲ


C.          Membaca Basmalah diantara Dua Surat
Menurut qiro’ah Hafesh ‘an ‘Ashim ada 4 cara 3 diantaranya jawaz (boleh) sedang 1 cara lagi ghoiru jaiz (tidak boleh), 3 cara yang jawaz adalah :
1.      Memutus semua, contoh :
ﻮﻻﺍﻠﻀﺎﻠﻴﻦ ۞ ﺒﺴﻢﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﻴﻢ ۞ ﺍﻠﻢ ﺬﻠﻚ

2.      Menyambung Basmalah dan awal surat, contoh :
ﻮﻻﺍﻠﻀﺎﻠﻴﻦ ۞ ﺒﺴﻢﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﻴﻢ ﺍﻠﻢ ﺬﻠﻚ

3.      Menyambung semuanya, contoh :
ﻮﻻﺍﻠﻀﺎﻠﻴﻦ ﺒﺴﻢﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﻴﻢ ﺍﻠﻢ ﺬﻠﻚ


Satu cara lagi yang tidak diperbolehkan adalah menyambung ayat akhir surat dengan basmalah dan diwaqofkan, kemudian memulai surat selanjutnya seperti contoh dibawah ini :
ﻮﻻﺍﻠﻀﺎﻠﻴﻦ ﺒﺴﻢﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﻴﻢ ۞ ﺍﻠﻢ ﺬﻠﻚ


Cara seperti ini tidak diperbolehkan karena takut disangka bahwa basmalah itu terletak pada akhir surat kecuali dalam Surat At-Taubah.

D.          Basmalah pada Awal Surat At-Taubah
Membaca basmalah pada awal surat Taubah sepakat para ulama untuk meninggalkan walaupun tidak ada nash yang menjelaskannya, alasannya sama yaitu mengikuti Rasulullah SAW dimana beliau apabila membaca awal surat Taubah tidak membaca basmalah.

Ulama Fuqoha terutama Syafi’iyah berpendapat sebagai berikut :
Imam Ibn Hajar
Membaca basmalah pada awal surat Taubah hukumnya adalah haram, sedang membaca ditengah-tengah surat Taubah hukumnya makruh. Pendapat ini lebih tanzih dan banyak diikuti oleh ulama-ulama qurro’ dan ahlul ada’.
Imam Romli
Membaca basmalah pada awal surat At-Taubah hukumnya makruh, sedangkan membaca ditengah-tengah surat At-Taubah hukumnya mubah alasannya adalah Imam Ibn Hajar melihat dari asbabunnuzulnya (pada saat turunnya), awal surat ini Allah sangat murka terhadap kaum musyrikin, sedangkan basmalah isinya adalah do’a kasih sayang, karena itu tidak layak Allah yang sedang murka lalu dimintai memberi kasih sayang. Imam Ramli hanya memberi hukum makruh, karena tidak ada nash shorih yang menjelaskannya secara jelas.

II. HUKUM NUN MATI DAN TANWIN ‘INDAL HIJAK
Hukum Nun mati dan Tanwin (                      ) apabila bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah sebanyak 28 yaitu :
ﺍ ﺏ ﺖ ﺚ ﺝ ﺡ ﺥ ﺪ ﺬ ﺮ ﺯ ﺱ ﺶ ﺺ ﺾ ﻁ ﻅ ﻉ ﻍ ﻑ ﻖ ﻚ ﻞ ﻡ ﻦ ﻮﻫ ﻱ

Mempunyai 4 hukum yaitu : Idhar, Idghom, Iqlab dan Ikhfa. Yang perlu diperhatikan berkenaan dengan huruf dan hukum-hukum diatas adalah :
1.      Semua huruf itu bisa menerima baris atau kedudukan/harokat, kecuali Alif ( ) ia tidak menerima baris dan tidak berdiri sendiri, bahkan selama-selamanya selalu sukun/mati dan berada dibelakang satu huruf, seperti :
2.      Alif ( ) itu kalau menerima baris seperti : ﺍﻢ ,ﺍﻮ ,dan lainnya, disebut Hamzah dan hukumnya sama dengan Hamzah ().
3.      Yang disebut Tanwin yaitu :
ﻨﻮﻦ ﺴﺎ ﻜﻨﺔ ﺘﻠﺤﻖ ﺃﺨﺮﺍﻻﺴﻡ ﻠﻔﻈﺎ ﻻﺨﻂﺎ

Nun mati () yang ada pada akhir kalimat isim didalam suaranya atau ucapannya tidak terdapat pada tulisannya.

Idhar
Yang dinamkan idhar menurut bahasa (etimonogi) adalah jelas atau tampak, sedang menurut istilah (terminologi) adalah mengeluarkan huruf idhar dan makhrojnya dengan jelas tanpa dengan dengung (bila ghunnah). Adapun huruf-huruf idhar itu ada 6 yaitu terdapat pada awal kalimat dibawah ini :
ﺍﺨﻲ ﻫﺎﻚ ﻋﻠﻤﺎ ﺤﺎﺰﻩ ﻏﻴﺮ ﺨﺎﺴﺮ﴿ ﺀ  ﻫ  ﻉ  ﺡ  ﻍ  ﺥ

Huruf-huruf idhar 6 (enam) tersebut juga disebut huruf Halaq, yang artinya huruf sebangsa tenggorokan/kerongkongan.
Pedoman bacaan idhar yaitu : apabila ada Nun mati atau tanwin (                ) yang bertemu dengan salah satu huruf halaq atau idhar maka hukum bacaannya dibaca jelas baik dalam satu kalimat atau dua kalimat maka disebut bacaan Idhar Halqiy Contoh :
ﻜﻠﻤﺔ
ﻜﻠﻤﺘﺎﻦ
ﻴﻨﺄﻮﻦ
ﺮﺴﻮﻞﺍﻤﻴﻦ
ﻤﻦﺃﻤﻦ
ﻴﻨﻬﻮﻦ
ﺠﺮﻒﻫﺎﺮ
ﺇﻦﻫﻮ
ﻴﻨﻌﻖ
ﺴﻤﻴﻊﻋﻠﻴﻡ
ﻤﻦﻋﻠﻢ
ﻴﻨﺤﺘﻮﻦ
ﻋﻠﻴﻡﺤﻜﻴﻡ
ﻤﻦﺤﺴﻨﺔ
ﻔﺴﻴﻨﻐﻀﻮﻦ
ﻋﺰﻴﺰﻏﻔﻮﺮ
ﻤﻦﻏﻞ
ﻮﺍﻟﻤﻨﺨﻨﻘﺔ
ﻘﻮﻢﺤﺼﻮﻢ
ﻤﻦﺨﻴﺮ

Idghom
Yang dinamakan idghom menurut bahasa adalah memasukkan sesuatu pada sesuatu, sedangkan menurut istilah adalah bertemunya huruf yang mati (                           ) dan huruf yang hidup sekira jadi satu sehingga seperti huruf yang bertasydid.
Idghom dibagi dua yaitu Idghom bighunnah dan Idghom bilaghunnah :
1.      Idghom bighunnah atau idghom naqis
Yang dinamakan idghom bighunnah yaitu bertemunya huruf yang mati (                      ) dengan huruf yang hidup sekira jadi satu sehingga seperti huruf yang bertasydid. Sedang ghunnahnya itu berarti memasukkan huruf yang mati pada huruf yang hidup tersebut disertai dengan dengung (ghunnah) yang tempat keluarnya pada janur hidung (khoisyum). Huruf idghom ada 4 yaitu :
Pedomannya adalah apabila ada nun mati atau tanwin           (                            ) yang bertemu dengan salah satu huruf idghom diatas maka disebut idghom bighunnah atau idghom naqis dengan syarat apabila mudghom dan mudghom fih terdiri dari dua kalimat, apabila mudghom dan mudghom fih terdiri dari satu kalimat maka wajib di idharkan seperti contoh berikut :
ﺍﻠﺪﻨﻴﺎ - ﺼﻨﻮﺍﻦ - ﻘﻨﻮﺍﻦ - ﺒﻨﻴﺎﻦ
Alasannya :
ﺨﻮﻔﺎ ﻤﻦ ﺍﻻﻠﺘﺒﺎﺲ ﺒﺎﻠﻤﻀﺎ ﻋﻑ
Takut serupa dengan mudho’af yaitu huruf yang ganda seperti (ﻤﺪ) asalnya adalah (ﻤﺪﺪ) contoh :
ﺃﻦﻴﻘﻮﻠﻮﺍ - ﺤﻁﺔﻨﻐﻔﺮﻠﻜﻢ - ﻫﺪﻯﻤﻦﺮﺒﻬﻢ - ﻤﻦﻮﺮﺍﺌﻬﻢ


2.      Idghom bilaghunnah atau idghom kamil
Yang dinamakan idghom bila ghunnah adalah bertemunya huruf mati (             ) dengan huruf hidup yang sekira jadi satu sehingga seperti huruf yang bertasydid. Bilaghunnah yaitu memasukkan huruf tersebut dengan tidak disertai dengungan. Hurufnya ada 2 yaitu ﻞ ﺮ      pedoman membacanya adalah apabila ada nun mati atau tanwin         (                                 ) yang bertemu dengan ﻞ ﺮ    disebut bacaan idghom bila ghunnah atau idghom kamil. Contoh :
ﻴﺒﻴﻦﻠﻨﺎ - ﻤﺮﺒﻬﻢ

Cara membacanya huruf yang mati dimasukkan pada yang hidup (dengan sempurna) dan tanpa disertai dengung.

Iqlab
Yang dinamakan iqlab menurut bahasa adalah memindahkan sesuatu dari keadaannya, sedangkan menurut istilah adalah menjadikan huruf pada tempatnya huruf yang lain sertai dengan dengungan (ghunnah).
Yang dimaksud memindahkan makhrajnya Nun (pada ujung lidah) dipindah pada makhrojnya mim () yang berada diantara dua bibir kemudian disertai dengung. Hurufnya ada satu yaitu (). pedoman membacanya adalah apabila ada nun mati atau tanwin (                              ) yang bertemu dengan bak () maka dibaca iqlab. Contoh :
ﻤﻦﺒﻌﺪ - ﺴﻤﻴﻊﺒﺼﻴﺮ
Yaitu suaru nun sukun/tanwin diganti dengan mim dan disertai dengung.

Ikhfak
Yang dinamakan ikhfak menurut bahasa adalah tutup atau assathru. Sedangkan menurut istilah adalah mengucapkan huruf yang mati dan sunyi dari tasydid disertai dengan ghunnah (dengung) pada huruf yang pertama (                                 ). Adapun sifatnya adalah diantara idhar dan idghom.
Huruf ikhfak ada 15 yaitu terdapat pada bait berikut ini :
ﺼﻒﺬﺍﺜﻨﺎﻜﻢﺠﺎﺪﺸﺨﺺﻘﺪﺴﻤﺎ۞ﺪﻢﻄﻴﺒﺎﺰﺪﻔﻰﺘﻘﻰﻀﻊﻈﺎﻠﻤﺎ

Pedoman membacanya adalah apabila ada nun mati atau tanwin (                ) yang bertemu dengan salah satu huruf 15 tersebut maka dibaca ikhfak. Sifatnya ikhfak ada 3 yaitu :
1.      Aqrob (ﺃﻘﺮﺐ) hurufnya ada 3 yaitu (ﺖ ﻄ ﺪ)
2.      Ausah (ﺃﻮﺴﻄ) hurufnya ada 1 yaitu ()
3.      Ab’ad (ﺃﺒﻌﺪ) hurufnya ada 2 yaitu (ﻖ ﻚ)
Sifat-sifat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Ikhfak itu sifatnya adalah antara idhar dengan idghom sedang yang menjadi pijakan adalah idhar karena itu yang dimaksud dengan :
·         Ikhfak aqrob adalah yang lebih dekat dengan idhar sebab itu membacanya agak seperti idhar tetapi tetap disertai dengung (sehingga menjadi samar).
·         Ikhfak ausath adalah pertengahan antara aqrob dengan ab’ad (dalam hal memberikan kesamarannya).
·         Ikhfak Ab’ad adalah yang lebih jauh dari idhar oleh sebab itu yang sangat nampak adalah dengungnya sehingga suara nun sukun menjadi hilang total. Contoh :
ﻜﺘﺮﺍڠﻦ
ﺴﺒﺎﺐ
ﺒﺠﺎﺌﻦ
ﻠﻔﻇ
ﻧﻤﺮﺓ
ﺍﻗﺮﺐ
ﻨﻮﻦﻤﺎﺘﻰﺘﻨﻮﻴﻦﺒﺮﺘﻤﻮ
ﺍﺨﻔﺎﺀ
ﻤﻨﺘﻬﻮﻦ
١
ﻴﻨﻄﻘﻮﻦ
٢
ﻤﻦﺪﻮﻦﺍﷲ
٣
ﺍﻮﺴﻄ
ﺃﻨﻓﺴﻬﻢ
٤
ﺍﺒﻌﺪ
ﻤﻦﻘﺒﻠﻚ
٥
ﺍﻗﺮﺐ/ﺍﻮﺴﻄ
ﻤﻦﻜﺎﻦﻤﻨﻜﻢ
٦
ﻤﻨﺼﻮﺮﺍ
٧
ﻤﻨﺬﺮ
٨
ﻤﻦﺜﻤﺮﺓ
٩
ﺍﻦﺠﺎﺀﻜﻡ
١٠
ﻮﻴﻨﺸﺊ
١١
ﻤﻨﺴﺎﺀﺘﺔ
١٢
ﺍﻨﺰﻠﻨﺎ
١٣
ﻤﻨﻀﻮﺪ
١٤
ﻴﻨﻈﺮﻮﻦ
١٥
Yang 9 terakhir boleh aqrob atau ausath.

III. HUKUM MIM MATI, NUN-MIM SYIDDAH, LAM TA’RIF,
IDGHOM DAN LAM ISIM, HURUF DAN QOLQOLAH

Apabila ada mim mati (           ) yang bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah 28 mempunyai 3 bacaan yaitu : Idgom mimy/idghom mitflain, ikhfa’ syafawy dan idhar syafawy dengan penjelasan sebagai berikut :

A.          Idghom Mimi/Idghom Mitslain
Yang dinamakan Idgom Mimy adalah bertemunya huruf yang mati dengan huruf-huruf hidup sekira menjadi satu, seperti huruf yang bertasydid, sedangkan yang disebut Mimi adalah karena bertemunya huruf yang mati dengan huruf yang hidup itu adalah huruf Mim (). Dan adapun disebut Mitslain karena bertemunya huruf yang mati dengan yang hidup adalah sama dalam sifat dan makhrajnya. Hurufnya hanya satu yaitu Mim (). Pedoman membacanya adalah apabila ada mim mati   () bertemu dengan Mim () maka membacanya disebut idghom mitslain.
Contoh :
ﻟﻬﻢ ﻤﺜﻼ - ﻮﻟﻜﻢ ﻤﺎ ﻔﻰﺍﻻﺮﺾ

B.           Ikhfak Syafawi
Yang dinamakan ikhfak syafawi adalah membaca atau mengucapkan huruf yang mati dan sunyi dari tasydid disertai dengan ghunnah (dengung) pada huruf yang pertama (           ). Syafawi adalah huruf yang akan dibaca ikhfak itu sebangsa bibir, yaitu hurufnya hanya satu () pedoman membacanya ialah apabila ada mim mati () bertemu dengan bak () makanya wajib dibaca ikhfak syafawi.
Contoh :
ﺘﺮﻤﻴﻬﻢ ﺒﺤﺠﺎﺮﺓ  -  ﻮﻫﻢ ﺒﺎﻻﺨﺮﺓ

C.          Idhar Syafawi
Yang dinamakan idhar syafawi adalah mengeluarkan huruf dari makhrojnya dengan jelas (bila ghunnah). Syafawi adalah huruf yang mati yang harus dibaca idhar itu sebangsa bibir.
Hurufnya ialah semua huruf hijaiyah selain mim dan bak               (ﻢ,ﺐ) akan tetapi untuk wawu dan fak (ﻮ,ﻒ) itu harus lebih di idharkan dari pada yang lain karena huruf tersebut juga sebangsa bibir.
Pedoman membacanya adalah apabila ada mim mati () bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah selain mim dan bak  (ﻢ,ﺐ) maka hukumnya wajib dibaca idhar syafawi contoh :
ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻮﻻﺍﻠﻈﺎﻠﻴﻦ   -   ﻮﻫﻢ ﻔﻴﻬﺎ


D.          Hukum Mim dan Nun (ﻢ,ﻦ) Yang Bertasydid
Apabila ada nun dan mim yang bertasydid (ﻢ,ﻦ) maka hukumnya wajib ditampakkan ghunnahnya, dan disebut bacaan ghunnah. Adapun lamanya dengungan kira-kira satu alif atau dua harokat. Contoh :
ﺜﻢ   -   ﻋﻢ   -   ﻤﻦ ﺍﻠﺠﻨﺔ ﻮﺍﻠﻨﺎﺲ
Adapun tempatnya ghunnah adalah pada janur hidung, ghunnah itu akan lebih tampak terang ketika lubang hidung di sumbat asal tidak terlalu rapat (ketika mengucapkan huruf ghunnah).

E.           Hukum Al Lil Mu’arrifah
Al Lil Mu’arrifah yang jatuh sebelum huruf hijaiyah itu mempunyai dua hukum.
1.      Al (ﺍﻞ   ) qomariyah, disebut qomariyah ini hanya untuk memudahkan saja, yakni membacanya huruf-huruf qomariyah ini sama dengan membaca lafadz Al-qomariyah (ﺍﻠﻘﻤﺮﻴﺔ) Al-nya diberi tanda sukun dan dibaca dengan jelas.

Hurufnya ada 14 yang terkumpul dalam bait :
ﺒﻎ ﺤﺠﻚ ﻮﺨﻒ ﻋﻘﻴﻤﺔ
Pedoman membacanya adalah apabila ada Al-mu’arrifah, sesudah ada salah satu huruf 14 tadi maka Al tersebut diatas harus dibaca dengan sukun dan hukumnya wajib dibaca Idhar Qomariyah. Contoh :
ﺍﻻﻨﻌﺎﻢ  -  ﺍﻠﺒﺭ  -  ﺍﻠﻐﻤﺎﻢ  -  ﺍﻠﺤﻤﻴﻢ
ﺍﻠﺠﻨﺔ  -  ﺍﻠﻜﻮﺜﺭ  -  ﺍﻠﻮﺍﻠﺪﺍﻦ  -  ﺍﻠﺨﻴﺭ  -  ﺍﻠﻔﺘﻨﺔ
ﺍﻠﻌﺎﺭﻔﻴﻦ  -  ﺍﻠﻘﻤﺭ  -  ﺍﻠﻴﻮﻢ  -  ﺍﻠﻤﺎﻞ  -  ﺍﻠﻬﺪﻯ

2.      Al-Syamsiyah, disebut demikian juga untuk memudahkan saja yakni memudahkan membacanya. Membaca Al-Syamsiyah ini sama dengan membaca lafadz Al-Syamsiyah (  ﺍﻠﺸﻤﺴﻴﺔ) yakni membaca Al-nya hilang dan huruf syamsiyahnya dibaca tasydid, jadinya As-Syamsiyah (ﺍﻠﺸﻤﺴﻴﺔ).
Adapun huruf-hurufnya adal 14 yang terdapat dalam   bait :
ﻄﺐﺜﻢﺼﻞﺮﺤﻤﺎﺘﻔﺰﺿﻒﺬﺍﻨﻌﻢﺪ - ﻉﺴﻮﺀﻈﻦﺰﺮﺸﺮﻴﻐﺎﻠﻠﻜﺮﺍﻢ
Pedoman membacanya adalah apabila ada Al Lil Mu’arrifah setelah ada salah satu huruf 14 tadi maka huruf-huruf tersebut harus dibaca dengan tasydid dan disebut bacaan As-Syamsiyah atau Idgom Syamsiyah. Contoh :
      ﺍﻠﻄﻴﺒﺎﺖ - ﺍﻠﺜﺎﻘﺐ - ﺍﻠﺼﺎﺪﻘﻴﻦ - ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ - ﺍﻠﺘﻮﺍﺐ
ﺍﻠﻆﺎﻠﻴﻦ - ﺍﻠﺬﻜﺮ - ﺍﻠﻨﺎﺲ - ﺍﻠﺪﺍﻋﻰ - ﺍﻠﺴﻤﻴﻊ - ﺍﻠﻆﺎﻠﻤﻴﻦ
ﺍﻠﺰﺒﻮﺮ - ﺍﻠﺸﺎﻔﻊ - ﺍﻠﻠﻴﻞ

F.           Al -Idghom
Peganganya idghom itu harus huruf yang kuat, tidak bisa di idghomkan dengan huruf yang lemah (dhoif) seperti :
Dhod () bertemu dengan Tak () seperti : ﻋﺮﻀﺘﻢﺍﻔﻀﺘﻢ
Dzo () bertemu dengan Tak () seperti : ﺍﻮﻋﻈﺖ
Dhod () bertemu dengan Tho’ () seperti : ﻔﻤﻦﺍﻄﺮﺓ - ﺛﻢﺍﻀﻄﺮ
Dan semua huruf halaq (ﺀﻫﻉﻍﺡﺥ) juga tidak ada idghom kecuali bila bertemu dengan huruf misal (huruf yang sama) baik makhroj maupun sifatnya. Adapun sebab tidak bolehnya di idghomkan adalah karena jauh mahrojnya dan sulit dibaca contoh :
ﻔﺎﺼﻔﺢﻋﻨﻬﻡ - ﻻﺘﺰﻍﻘﻠﻭﺒﻨﺎ - ﻴﺘﺒﻊﺨﻄﻭﺍﺖ - ﻔﺴﺒﺤﻪ - ﻭﺍﺴﻤﻊﻏﻴﺮ

Contoh-contoh tersebut diatas itu wajib dibaca Idhar karena sudah ijma’ dari semua ahlul qurro dan tidak diperbolehkan idghom.
Idghom dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1.      Idghom Mutamatsilain
Idghom mutamatsilain adalah apabila ada dua huruf yang sama makhrojnya dan sifatnya seperti bak () bertemu dengan bak (          ) dan yang awal mati, maka hukumnya wajib idghom (bittifaqil qurro’)  baik dalam satu kalimat maupun dua kalimat seperti :
ﻴﻭﺠﻬﻪ  -  ﻴﻌﺘﺐﺑﻌﻀﻜﻡ
Kecuali kalau berupa huruf mad : wawu () mati setelah dhommah yak () mati setelah kasroh seperti :
ﻘﺎﻠﻭﺍﻭﻫﻢ  -  ﻔﻰﻴﻮﻡ
Ini wajib idhar (bittifaqil qurro’) karena untuk menjaga mad ashli atau mad thobi’i jangan sampai hilang. Dari itu kalau bukan huruf mad yakni hanya merupakan huruf lain saja          (wawu mati dan yak mati setelah harokat tathah) maka tetap harus diidghomkan seperti :
ﻋﺻﻭﺍﻮﻜﺎﻨﻭﺍ - ﺍﻭﻭﺍﻭﻨﺼﺮﻭﺍ - ﺜﻢﺍﺘﻘﻭﺍﻭﺍﻤﻨﻭﺍ
Idghom mutamatsilain ini dibagi dua yaitu :
a.       Shoghir, contoh : ﺍﻀﺮﺐ ﺒﻌﺼﺎﻚ

b.      Kabir, contoh : ﻔﻴﻪﻫﺪﻯ - ﺍﻠﺮﺤﻴﻡﻤﺎﻠﻚ

Kabir ini menurut Imam Hafs ‘An Ashim tidak ada, sedang yang mempunyai pendapat ini adalah Imam Susi An Abi Amrin.

2.      Idghom Mutajanisain
Dinamakan Idghom Mutajanisain yaitu ketika ada dua huruf yang sama dalam makhrajnya tetapi berbeda dalam sifatnya huruf yang pertama mati seperti Dal () bertemu dengan Tak   () contoh :
ﻘﺪﺘﺒﻴﻦ - ﻴﻠﻬﺚﺬﻠﻚ - ﺍﺜﻘﻠﺖﺪﻋﻮﺍﺍﷲ
ﻫﻣﺖﻄﺎﺌﻔﺔ - ﺍﺬﻈﻠﻤﻮﺍ

Kemudian seperti lagi : ﺍﺮﻜﺐﻤﻌﻨﺎ menurut Ashim dibaca bighunnah. Adapaun kalau ada lafadz : ﻠﺌﻦﺒﺴﻂﺖ ini sebagaimana diterangkan diatas (tidak di idghomkan kamil tetapi idghom naqis).

3.      Idghom Mutaqaaribain
Idghom Muaqaaribain yaitu ketika ada dua huruf yang berdekatan makhraj dan sifatnya, sedang yang pertama mati seperti Qof () dalam lafadz :
ﺍﻠﻡﻨﺨﻠﻘﻜﻢ  -  ﻘﻞﺮﺐ

G.          Hukum Lam Isim Yang Ashli
Apabila ada Lam dalam kalimat isim maka secara mutlak harus di idharkan contoh :
ﺴﻠﻄﺎﻦ  -  ﺴﻠﺴﺒﻴﻼ  -  ﺍﻠﻮﺍﻨﻜﻢ
Adapun hukum lam yang lain adalah :
1.      Hukum Lam Fi’il
Apabila adal Lam dalam kalimat Fi’il baik Madhi maupun Amr kecuali Lam Fi’il Amr yang bertemu dengan Lam () dan Ra () ini wajib di Idghomkan contoh :
ﻘﻞﻠﻜﻢ  -  ﻘﻞﺮﺐ
Adapun yang lain wajib di idharkan contoh :
ﻠﺘﻘﻁ - ﻴﻠﺘﻘﻁ - ﺍﻠﺘﻘﻁ - ﺍﻠﺘﻘﻰ - ﻴﻠﺘﻘﻰ - ﺍﻠﺘﻘﻰ
ﺠﻌﻠﻨﺎ - ﻀﻠﻠﻨﺎ - ﻮﺍﻠﺘﻘﻰ - ﻘﻞﻨﻌﻡ

2.      Hukum Lam Huruf
Apabila ada Lam terdapat pada kalimat huruf maka wajib dibaca Idhar juga seperti :
ﻫﻞﺘﺴﻄﻴﻊ  -  ﺒﻞﻄﺒﻊﺍﷲ

Ini juga terkecuali bila bertemu dengan Lam dan Ro (ﻞ,ﺭ) maka kalau terjadi demikian harus di idghomkan contoh :
ﺒﻞﻟﻜﻡﺒﻞ  -   ﺭﻔﻌﻪﺍﷲ

(Bacaan Bal Roona ini untuk selain hafas menurutnya bacaan Bal Roona ini di baca Sakt). Alasan Imam Hafas membaca Sakt adalah agar tidak serupa dengan Barrona (ﺒﺭﺍﻦ) yang berarti dua orang yang baik sedangkan apabila dibaca Bal Roona berarti bahkan berkata.

H.          Qolqolah
Qolqolah menurut bahasa berarti mengguncang atau menggoyang. Sedangkan menurut istilah adalah menggoyangkan bunyi huruf qolqolah ketika mati atau ketika waqof.
Huruf qolqolah itu ada 5 yaitu : ﻖ  -  ﻄ  -  ﺐ  -  ﺝ  -  ﺪ
Qolqolah itu terbagi menjadi 2 bagian :
1.      Qolqolah Kubro yaitu apabila huruf-huruf qolqolah tersebut berharokat sukun sebagai ganti (iwad) karena di waqofkan.
Contoh :
ﺨﻼﻖ ۞ ﺼﺭﺍﻄ ۞ ﻋﺬﺍﺐ ۞ ﺒﻬﻴﺞ ۞ ﺸﺪﻴﺪ ۞
2.      Qolqolah Shugro yaitu apabila huruf-huruf qolqolah itu berharokat sukun yang asli (bukan karena diwaqofkan) contoh:
ﻴﻘﻄﻌﻮﻦ  -  ﻴﻄﻤﻌﻮﻦ  -  ﻴﺠﻌﻠﻮﻦ  -  ﻴﺪﻋﻮﻦ

IV. HUKUM BEBERAPA MAD DAN PANJANGNYA
A.          Pengertian
Pengertian Mad menurut bahasa adalah memanjangkan atau sesuatu yang memanjang, waqila az-ziyadah sesuatu yang tambah. Sedangkan  menurut istilah adalah memanjangkan suaru huruf dari huruf-huruf mad.
Adapun huruf-huruf mad itu adalah :
1.      Alif (alif mutlak) jatuh setelah harokat fathah :ﻤﺎﻻ  -  ﻏﻮﻯ
2.      Wawu mati jatuh setelah harokat dhomah : ﻘﻮﻟﻮ  -  ﺍﻘﻮﻤﻮﺍ
3.      Yak mati setelah harokat kasroh : ﻘﻴﻞ  -  ﺤﻤﻴﺪﻴﻦ
Sedangkan huruf len ada 2 yaitu wawu dan yak keduanya sukun dan jatuh setelah harokat fathah, contoh :
ﺍﻟﻴﻮﻢ  -  ﺍﻟﻨﻮﻡ  -   ﺍﻟﺨﻴﺮ  -  ﺍﻟﻀﻴﺮ
Mad dapat dibagi dua yaitu mad asli/mad thobi’i dan mad far’i.

B.           Mad Ashli atau Mad Thobi’i 
Disebut mad asli karena pangjangnya Mad ini sesuai dengan aslinya, sedangkan disebut mad thobi’i (sebagai watak) karena orang yang mempunyai watak yang baik tidak akan menambah dan mengurangi kepastian mad ini. Yakni wawu () jatuh setelah harokat kasrah dan alif (     ) yang jatuh setelah harokat fathah contoh :  ﻨﻮﺤﻴﻬﺎ

Panjang kira-kira satu alif atau dua harokat, mad thobi’i ini di bagi menjadi 3 yaitu Dhohiri, Muqaddar dan Harfy. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :
1.      Mad Thobi’i Dhohiri
Mad thobi’i berarti jelas adalah terdapat pada kalimat yang huruf madnya tertulis dengan jelas, sehingga dapat menunjukkan dengan jelas bahwa kalimat tersebut harus dibaca panjang, seperti :  ﻨﻮﺤﻴﻬﺎ
Adapun mengenai Alif yang ada pada lafadz Ana (ﺍﻨﺎ) mutakallin wahdah (saya) yang harus dibaca pendek ada bahasan dan alasannya sendiri.
2.      Mad Thobi’i Muqaddar
Mad thobi’i muqaddar berarti di kira-kirakan yang harus dibaca panjang, tetapi huruf madnya tidak nampak. Adapun alasannya adalah berhubung dengan arti dan penulisannya dalam al-Qur’an Ustmaniyah seperti                                   mim dan lam seluruh ulama membaca panjang satu alif.
3.      Mad Thobi’i Harfi
Mad thobi’i harfi berarti sebangsa huruf, adalah bacaan panjang satu alif yang ada pada huruf (tidak pada kalimat) yakni terdapat pada beberapa pembukaan surat (fawatihussuwar) yang belum huruf itu sendiri (asmaul huruf). Huruf-hurufnya terkumpul dengan lafadz yakni terdiri dari :
ﺤﻲ - ﻄﻬﺮ - ﺠﺎﺀ - ﻴﺎﺀ - ﻄﺎﺀ - ﻫﺎﺀ - ﺮﺍﺀ
Seperti lafadz :
ﺤﻡ  -  ﻴﺲ  -  ﻄﻪ  -  ﺍﻠﺮ

C.          Mad Far’i
Disebut Mad Far’i karena mad ini adalah cabang dari mad asli. Mad far’i ini terjadi dari 14 bagian yaitu :
1.      Mad Wajib Muttashil
Disebut wajib karena ulama quroo’ setelah sepakat (ijma’) memanjangkan mad ini lebih dari aslinya. Sedang disebut muttashil karena bertemunya huruf mad dengan hamzah dalam satu kalimat. Panjangnya kira-kira (qadr) 2,5 alif atau sama dengan lima harokat, demikian kata Imam Hafs An Ashim, sedangkan menurut Imam lain dapat lebih panjang lagi, seperti Imam Warosy, Imam Hamzah, dsb.
Pedoman membacanya adalah sebagai berikut : Apabila ada huruf mad setelah Hamzah yang kumpul dalam satu kalimat maka hukumnya wajib dibaca mad wajib muttasil. Contoh :
ﻠﻘﺪﺠﺎﺀﻜﻡ  -  ﻫﻨﻴﺌﺎﻤﺮﻴﺌﺎ  -  ﺴﻮﺀﺍﻠﻌﺬﺍﺐ

2.      Mad Jais Munfasil
Disebut jaiz karena ikhtilaf (berbeda pendapat) antara ulama qurro’, ada yang membaca panjang dan ada yang membaca pendek atau kata qiil, karena itu hukumnya jaiz yakni boleh dibaca dua wajah menurut riwayat Imam Nafi’ Al-Madany dan riwayat dan Al-Bashori.
Sedang disebut muntashil karena bertemunya mad dengan huruf hamzah terpisah atau pada kalimat lain.
Panjang kira-kira (qodr) 2,5 alif atau sama dengan 5 harokat. Menurut Hafs an Ashim pedoman membacanya adalah apabila ada huruf mad. Sedang seelahnya ada hamzah dalam kalimat lain maka hukumnya disebut mad jaiz munfasil.
Contoh :
ﻴﺎﺍﻴﻬﺎﺍﻠﺬﻴﻦﺍﻤﻨﻮﺍﻘﻮﺍﺍﻨﻔﺴﻜﻢ - ﻔﺎﻨﻈﺮﻨﻲﺍﻠﻰﻴﻮﻢﻴﺒﻌﺜﻮﻦ
Perbedaan pendapat para ahlul qurro’ dalam mad jais munfashil ini ada tiga tingkatan :
a.       Wajib membaca qasr seperti mad asli (satu alif) inilah pendapat Imam Al-Bazzi Qonbul, As-Susi an Abi Amrin.
b.      Wajib panjang seperti mad wajib muntasil seperti Imam Warasy, Hamzah, Ibnu ‘Amr, Al-Kisai dan Imam Ashim termasuk Imam Hafs. Adapun panjangnya menurut sendiri-sendiri.
c.       Mempunyai dua wajah, seperti Imam Qolun, Dzuri istilahnya menggunakan kata Qasr dan Mad satu atau 2,5 alif.

3.      Mad Arid Lissukun
Mad Arid Lissukun yaitu apabila akhir kalimat terdapat huruf yang bersukun karena waqaf (pendatang baru) yang didahului oleh salah satu huruf mad (wawu jatuh setelah dhommah, ya jatuh setelah kasroh dan alif jatuh setelah fathah. Akan tetapi apabila di washolkan (disambungkan dengan kalimat berikutnya) maka kembali pada aslinya, yaitu mad thobi’i.

Panjangnya ada tiga wajah
a. Satu alif    =  Dua harokat
b. Dua alif    =  Empat harokat
c. Tiga alif    =  Enam Harokat
tetapi yang lebih umum di negara kita Indonesia ini adalah dua atau tiga alif = empat atau enam harokat.
Perbedaan panjang bacaan tersebut diatas yakni ada yang mengatakan satu alif, dua alif dan tiga alif dengan alasan sebagai berikut :
a)      Yang membaca satu alif karena bertemunya sukun karena waqof, sedang waqof itu tidak bisa menetapkan tambahan mad (untuk lebih dari mad asli).
b)      Yang membaca dua alif karena melihat sukun itu tidak asli, maka tetap dibaca dibawahnya mad lazim (dibaca tasawwuth).
c)      Yang membaca tiga alif karena mereka berpendapat harus disamakan dengan mad lazim dan ini lebih umum di negara kita Indonesia.
Pedoman membacanya adalah apabila ada huruf mad setelahnya terdapat huruf yang mati karena diwaqofkan, maka disebut bacaan mad aridlissukun. Contoh :
ﺍﻠﺼﺮﺍﻄﺍﻠﻤﺴﺘﻘﻴﻢ  -  ﺸﺪﻴﺪﺍﻠﻌﻘﺎﺐ  -  ﻮﻫﻢﻤﺆﻤﻨﻮﻦ

4.      Mad Lien Aridli
Mad ini disebut lien karena huruf sebelum akhir yang diwaqofkan adalah berupa huruf lien yakni wawu dan yak yang keduanya mati (sukun) jatuh setelah harokat fathah. Sedang disebut aridli karena adanya suatu yang baru datang yaitu sukun pada huruf yang terakhir karena waqof. Karena itu bila di washolkan maka hukum bacaannya kembali pada aslinya yaitu bacaan lien, artinya lunak (tidak ada unsur panjang).
Ukuran panjang sama dengan bacaan mad aridli lissukun yakni 1/2/3 alif = 2/3 -6 harokat.
Pedoman bacaannya yaitu apabila ada kalimat yang diwaqofkan dan sebelumnya didahului atau berupa huruf lien maka disebut bacaan mad lien aridli contoh :
ﻤﻦﺍﻠﻨﻮﻡ  -  ﻤﻦﺨﻮﻑ  -  ﺬﻠﻚﺨﻴﺮ  -  ﻮﺍﻠﺼﻴﻒ

5.      Mad Badal
Mad badal yaitu mad yang menjadikan pengganti yaitu apabila ada hamzah sukun terletak setelah hamzah yang berharokat fathah, kasroh dan dhommah dalam satu kalimat, contoh :
ﺃﻤﻦ  -  ﺍﺜﻤﺎﻨﺎ  -  ﺍﺆﺘﻰ
Maka hamzah sukunnya harus diganti dengan mad yang sesuai dengan qaidah :
Apabila ada hamzah dua kumpul dalam satu kalimat sedang yang kedua mati maka huruf mad harus diganti dengan huruf yang mujannasah (sejenis) huruf sebelumnya (bila harokat sebelumnya fathah, maka harus disuarakan (a) panjang (), bila sebelumnya berharokat kasroh maka harus disuarakan (i) panjang (ﺍﻱ), bila sebelumnya berharokat dhommah maka harus disuarakan (u) panjang (ﺍﻮ) contoh diatas tasi sehingga menjadi :

Panjangnya adalah satu alif atau dua harokat, semua qurro’ sama kecuali Imam Warosy yang mempunyai tiga wajah. Pedomannya adalah apabila ada huruf yang dibaca panjang sedang aslinya 2 huruf seperti :
ﺃﻤﻦ       asalnya     ﺍﺃﻤﻦ  

6.      Mad Iwadh
Mad iwad disebut demikian karena mad iwad ini merupakan hasil tukar dari tanwin maha nashob (tanwin fathah) pada akhir kalimat isim yang diwaqofkan cara membacanya panjang satu alif atau dua harokat.
Pedoman membacanya adalah apabila ada tanwin mahal nashob yang diwaqofkan maka tanwin tersebut harus ditukar atau diganti mad. Menurut penulisan Usmaniyah biasa diakhirnya diberi alif, kecuali pada huruf hamzah sebab hamzah itu sendiri sebenarnya sudah menyimpan alif yang demikian disebut mad iwad, contoh :
ﻋﻠﻴﻤﺎﺤﻜﻴﻤﺎ  -  ﻤﻦﺍﻠﺴﻤﺎﺀﻤﺎﺀ  -  ﺮﺠﺎﻻﻜﺜﻴﺮﺍﻮﻨﺴﺎﺀ

7.      Mad Lazim Kilmy Mutsaqqol
Mad ini disebut lazim karena tetapnya sukun/tasydid dan juga berarti karena tetapnya ulama qurro’ (ittifaq) dalam memanjangkan mad ini lebih dari mad asli, disebut mutsaqqol karena beranya bacaan huruf mad ketika bertemu dengan huruf lain yang tasydid, dibanding dengan mukhoffaf.
Adapun disebutnya kilmi karena bertemunya huruf mad dengan huruf yang bertasydid tadi dalam satu kalimat maka tidak dibaca panjang, seperti :
ﻮﺍﻠﻤﻘﻴﻤﻰﺍﻠﺼﻠﻮﺓ  -  ﻘﺎﻠﻮﺍﺍﺪﻉﻠﻨﺎ  -  ﻮﻘﺎﻠﻮﺍﺍﺘﺨﺬﺍﷲ

Panjangnya kira-kira (qadar) tiga alif atau enam harokat. Pedoman membacanya adalah apabila ada huruf yang mad yang bertemu dengan huruf yang bertasydid dalam satu kalimat maka hukumnya disebut bacaan mad lazim kilmi mutsaqool.
ﻮﻻﺍﻠﻀﺎﻠﻴﻥ  -  ﺍﻠﺼﺎﺨﺔ

8.      Mad Lazim Kilmi Muhkoffaf’
Mad kilmi mhkhoffaf disebut lazim karena tetapnya sukun atau tasydid, disebut mukhoffaf karena bertemunya huruf mad dengan sukun itu bacaannya lebih ringan dari pada yang mutsaqqol sedangkan disebut kilmi adalah karena bertemunya huruf mad dengan sukun terdapat dalam satu kalimatnya.
Panjangnya tiga alif atau enam harokat dengan pedoman membacanya adalah apabila ada huruf yang bertemu dengan sukun dalam satu kalimat maka disebut Mad Lazim Kilmi Muhkoffaf. Contohnya adalam Al-qurán terdapat dalam dua tempat yaitu pada surat Yunus juz 11 yang bunyinya adalah :
ﻮﻻﻥﻮﻘﺪﻋﺼﻴﺖ  -  ﺍﻻﻥﻮﻘﺪﻜﻨﺘﻡ

9.      Mad Lazim Harfi Muhaffaf dan Mustaqqol
Mad lazim harfi adalah mad yang ada pembukaan beberapa surat (fawatihissuwar), untuk itu agar lebih ringkas dan cepat faham sebaiknya kita pelajari terlebih dahulu huruf-huruf fawatihissuwar.
a.       Disebut mad thobi’i harfi
b.      Disebut mad lazim harfi kecuali alif sebab alit tidak menemui mad makanya tidak dibac panjang (alif kalau ditulis arab alif (ﺍﻠﻒ) terdiri dari hamzah, lam kasroh dan fak sukun, ditengah-tengah antara lam dan fak tidak tedapat huruf mad.
Huruf-huruf awal surat :
1)      Huruf awal surat yang dibaca mad thobi’i qodr satu alif terkumpul dalam (ﺤﻲﻄﺎﻫﺮ) kecuali alif (), haa (), seperti haa mim (ﺤﻡ), yak (), seperti Yaa siin (ﻴﺲ), tho dan hak (ﻄﻪ), ro (ﺍﻠﺮ).
2)      Selain huruf (ﺤﻲﻄﺎﻫﺮ) semua wajib dibaca mad lazim harfi, panjangnya qodr tiga alif (bil ijma’) hurufnya terkumpul dalam lafadz :  ﻨﻔﺺﻋﺴﻠﻛﻡ
Mad ini disebut harfi karena mad ini terdapatnya pada huruf (tidak pada kalimatnya), sedang disebut lazim karena tetap harus dipanjangkan sesuai dengan kaidah atau batasannya yakni kalau huruf hijaiyah itu berkumpul tiga huruf yang tengah berupa mad kemudian bertemu dengan sukun asli (pada huruf ketiga) maka harus dibaca panjang, inilah yang disebut mad lazim harfi baik mutsaqqol maupun muhkofaf, adapun contoh adalah sebagai berikut :
a.       Mukhoffaf  : ﺍﻠﺮﻄﺲﻜﻬﻴﻌﺺ
b.      Mutsaqqol  : ﻄﺴﻡﺍﻠﻤﺺ
Huruf mad bertemu dengan tasydid hingga menjadi berat bacaannya sebab beratnya bacaan inilah disebut mad lazim kilmi mutsaqqol.

10.  Mad Shilah Qosirah dan Thowilah
Arti mad shilah adalah hubungan, mad ini terjadi apabila ada ha () dhomir yang mufrod mudzakar dalam Al-qur’an terdapat 4 macam yang akan dijelaskan dibawah ini :
Adapun mad shilah shilah ini dibagi 2 yaitu Qoshiroh dan Thowilah.
Hak dhomir dalam Al-qur’an itu ada 4 macam yaitu :
a.       Kalau muka dan belakang hak dhomir itu berupa huruf hidup maka dibaca Mad shilah Qoshiroh sama dengan mad Thobi’i panjangnya qodr satu alif atau dua harokat seperti lafadz :
ﺇﻨﻪﻜﺎﻦ  -  ﻴﻌﺮﻔﻮﻨﻪﻜﻤﺎ  - ﻤﻦﺪﻮﻨﻪﻤﻠﺘﺤﺪﺍ 
Kecuali terdapat pada surat Az-zumar ayat 7 juz 23 yang berbunyi sebagai berikut :ﻴﺮﺿﻪﻠﻜﻢ haknya tetap dibaca pendek satu harokat.
b.      Kalau setelah hak dhomir berupa hamzah qotho’ maka disebut bacaan Mad Shilah Thowilah panjangnya qadr 2,5 atau 5 harokat seperti : ﻤﻦﺪﻮﻨﻪﺍﻠﻬﺎ - ﻴﺸﻔﻊﻋﻨﺪﻩﺍﻻ. Ini semua kalau dibaca washol (sambung) tetapi jika dibaca waqof (berhenti) maka harus dibaca sukun seperti :
ﻴﻌﺮﻔﻮﻨﻪ - ﻤﻦﻋﻠﻤﻪ
Dan kalau selain hak dhomir maka tetap dibaca pendek, seperti :
ﻔﻮﺍﻜﻪﻮﻫﻡ - ﻤﺎﻨﻔﻘﻪﻜﺜﻴﺮﺍ
c.       Muka dan belakang hak dhomir berupa huruf mati seperti lafadz :
ﺃﻦﺍﺘﺎﻩﺍﷲ - ﻮﻴﺄﺘﻴﻪﺍﻠﻤﻮﺖ
Juga harus tetap dibaca pendek satu harokat.
d.      Muka hak dhomir berupa huruf hidup, sedang belakangnya huruf mati seperti :
ﻠﻪﺍﻠﺤﻤﺪ - ﺍﺴﻤﻪﺍﻠﻤﺴﻴﺢ
Ini juga dibaca satu harokat.
e.       Muka hak dhomir barupa huruf mati sedang dibelakangnya berupa huruf hidup, seperti :
ﻔﻴﻪﻫﺪﻯ - ﺨﺬﻮﻩﻔﺎﻋﺘﻠﻮﻩﺇﻠﻰ
Juga dibaca satu harokat kecuali yang terdapat dalam surat Al-fur’qan ayat 69 juz 19 yang berbunyi :
ﻔﻴﻪﻤﻬﺎﻨﺎ
Menurut riwayat Hafs an Ashim dibaca panjang sebagaimana mad shila qoshiroh atau mad thobi’i yakni panjangnya satu alif atau dua harokat.

11.  Mad Farqi
Mad farqi termasuk mas alzim kilmi dan disebut mad farqi sebab mad ini memisah antara istifham dan kalam khobar, umpama tidak diberi mad maka tidak dimengerti bahwa kalam ini adalah kalam istifham, didalam Al-qur’an terdapat pada 6 tempat yaitu :ﻘﻞﺍﺍﻠﺬﻜﺭﻴﻦ  
Ini terdapat pada dua tempat yaitu pada surat Al-an’am yaitu pada lafadz ﺍﺍﷲﺨﻴﺭ dan pada surat An-naml yaitu pada lafadz  ﻘﻞﺍﺍﷲﺃﺬﻦﻠﻜﻢ dan terdapat pula pada surat Yunusﺍﺍﻻﻦ, kalimat ini disamping dibaca mad farqi juga boleh dibaca tashil. Panjangnya qodr tiga alif atau 6 harokat (bil ijma’), pedoman membacanya yaitu apabila ada hamzah istifham bertemu dengan al (ﺍﻞ) maka disebut bacaan mad farqi.

12.  Mad Tamkin
Mad tamkin berarti menetapkan terjadinya adalah apabila yak tasydid berharokat kasroh yang terletak dimuka yak sukun maka disebut bacaan mad tamkin panjangnya satu alif seperti : ﻮﺍﺬﺍﺤﻴﻴﺘﻢ - ﺍﻠﻨﺒﻴﻴﻦ
D.          Lam pada Lafadz Jalalah
Semua lam selain lam pada Al-jalalah (ﺍﷲ) yang jatuh setelah harokat apa saja hukumnya dibaca tarqiq (tipis)  kecuali menurut riwayat Warosy an Nafi’ Al-madani, menuurtnya ada peraturan tersendiri contoh :
ﻮﻻﺘﻈﻠﻤﻮﻦ - ﺍﻠﻄﻼﻖ - ﻮﺴﻴﺼﻠﻮﻦ - ﺍﻠﺼﻼﺓ
Adapun lamnya lafadz jalalah jika jatuh sesudah harokat fathah dan dhommah maka hukumnya wajib dibaca tafkhim (tebal) contoh :
ﺇﻦﺍﷲ - ﺍﺬﻘﺎﻞﺍﷲ - ﺮﺴﻮﻞﺍﷲ -ﻋﺒﺪﺍﷲ
Alasannya untuk mengagungkan asma Allah akan tetapi jika jatuh sesudah harokat kasroh, maka hukumnya wajib dibaca tarqiq (tipis) contoh :
ﻘﻞﺍﻠﻠﻬﻡ
Alasannya karena dirasakan berat dan sulit diucapkan.

V. HUKUM MEMBACA RO’

Hukumnya membaca ro’ itu ada dua macam yaitu dibaca tafkim (tebal) dan dibaca tarqiq (tipis) dengan ketentuan sebagai berikut :

A.    Tafkhimirro (Ro’ yang dibaca tebal)
1.      Jika ada Ro’ yang berharokat fathah dan dhommah contoh :
ﺮﺒﻨﺎ - ﺮﺰﻘﻨﺎ

2.      Jika ada Ro’ yang berharokat sukun asli atau karena diwaqofkan yang jatuh sesudah harokat fathah atau dhommah baik muttashil (sambung) atau munfashil (terpisah) dengan huruf mati yak sukun contoh :
ﻴﺮﺠﻌﻮﻦ - ﻴﺮﺴﻞ - ﻴﺎﻤﺮﻴﻡ - ﻤﻦﻤﺮﻘﺪﻨﺎﻫﺬﺍ
ﻜﻞﺍﻤﺮ - ﺠﻤﺎﻠﺔﺼﻔﺮ - ﻏﻔﻮﺮ

3.      Jika ada Ro’ yang jatuh sesudah harokat kasroh kemudian bertemu dengan salah satu huruf isti’la’ (meninggi atau berat karena bunyi huruf itu agak berat). Adapun huruf-hurufnya ada tujuh yang terkumpul dalan lafadz :
ﺨﺺ ﻀﻐﻄ ﻘﻇ

Dengan syarat kumpul dalam satu kalimat seperti :

ﻤﻦﻜﻞﻔﺮﻘﺔ - ﻠﺒﺎﻠﻤﺮﺼﺎﺪ - ﻤﺮﺼﺎﺪﺍ - ﺍﺮﺼﺎﺪﺍ - ﻘﺮﻂﺎﺲ

Akan tetapi jika huruf isti’la itu terdapat pada kalimat lain maka hukumnya wajib dibaca tarqiq seperti :
ﻔﺎﺼﺒﺮﺼﺒﺮﺍ - ﻮﺍﻨﺬﺮﻘﻮﻤﻚ
4.      Jika ada Ro’ sukun yang jatuh sesudah hamzah washol mutlak baik berharokat asli atau aridli (gantian) baik fathah atau dhommah seperti :
ﺍﻤﻨﻮﺍﺍﻜﻌﻮﺍ - ﻴﺎﺒﻨﻲﺍﺮﻜﺐﻤﻌﻨﺎ - ﻮﺍﺮﺤﻤﻨﺎ
ﺍﺮﺠﻌﻲ - ﺍﻠﺬﻯﺍﺮﺘﻀﻲ
Semua contoh tersebut wajib dibaca tebal.

B.     Tarqiqirro’ (Ro’ yang dibaca tipis)
1.      Jika ada Ro’ yang berharokat kasroh baik pada awal kalimat, tengah atau akhir kalimat baik dalam kalimat fi’il maupun isim seperti :
ﻮﺍﻠﻐﺎﺮﻤﻴﻦ - ﻮﺍﻠﻔﺠﺮﻮﻠﻴﺎﻞ - ﻮﺍﺮﻨﺎ - ﻮﺰﻘﺎﻠﻜﻢ
2.      Jika ada Ro’ mati atau sukun yang jatuh sesudah harokat kasroh yang asli dan muttashil (sambung) dan setelah Ro’ bukan salah satu huruf isti’la’ seperti :
ﺍﻻﻮﻠﻰﺍﻻﺮﻴﺔ - ﻠﺴﺮﺬﻤﺔ - ﻮﺍﺼﻄﺒﺮ - ﻮﻔﺮﻋﻮﻦﺬﻯﺍﻻﻮﺘﺎﺪ
3.      Jika ada Ro’ sukun atau mati yang jatuh sesudah yak mati, baik yak itu jatuh setelah harokat, kasroh atau yak lien seperti :
ﺇﻠﻰﺍﻄﻴﺮ - ﺨﻴﺮ - ﺬﻠﻚ - ﻘﺪﻴﺮ
4.      Jika ada Ro’ mati atau sukun karena waqof yang jatuh setelah harokat kasroh baik muttashil maupun munfashil dan huruf mati berupa apa saja seperti lafadz :
ﻠﺬﻯﺤﺠﺮ - ﺍﻠﻨﺎﺱﺍﻠﺴﺤﺮ - ﺘﺑﻠﻰﺍﻠﺴﺮﺍﺌﺮ
Semua contoh-contoh tersebut dibaca tarqiq (tipis)

C.    Ro’ yang boleh dibaca dua wajah
1.      Ro’ sukun karena waqof dan jatuh sesudah harokat kasroh dan yang terpisah dengan huruf isti’la’ seperti :
ﻤﺼﺮ - ﻋﻴﻦﺍﻠﻘﻄﺮ
2.      Ro’nya lafadz (ﻜﻞﻔﺮﻖ) dibaca tafkhim sebab ro’ sukun bertemu dengan huruf isti’la’ (qof) dibaca kasroh.

D.    Ringkasan atau Pengecualian
1.      Ro’ sukun jatuh pada harokat kasroh yang wajib dibaca tafkhim sebab menghadapi huruf isti’la’ didalam Al-qur’an hanya terdapat pada 5 tempat yaitu :

ﺍﻴﺔ
ﺴﻭﺮﺓ
ﺠﺰﺀ
ﻜﻠﻤﺔ
ﻨﻤﺮ
۷
ﺍﻻﻨﻌﺎﻢ
٧
ﻘﺮﻄﺎﺲ
١
۱۰۷
ﺍﻠﺘﻮﺒﺔ
١١
ﺇﺮﺼﺎﺪﺍ
٢
۱۲۲
ﺍﻠﺘﻮﺒﺔ
١١
ﻤﻦﻜﻞﻔﺮﻘﺔ
٣
۲۱
ﺍﻠﻨﺒﺎﺀ
٣٠
ﻤﺮﺼﺎﺪﺍ
٤
۱٤
ﺍﻠﻔﺠﺮ
٣٠
ﻠﺒﺎﻠﻤﺮﺼﺎﺪ
٥

2.      Ro’ sukun yang jatuh sesudah harokat kasroh yang wajib dibaca tafkhim sebab jatuh setelah hamzah washol banyak sekali terdapat didalam Al-qur’an, contohnya adalah :

ﺍﻴﺔ
ﺴﻭﺮﺓ
ﺠﺰﺀ
ﻜﻠﻤﺔ
ﻨﻤﺮ
١٠٦
ﺍﻠﻤﺎﺌﺪﺓ
٧
ﺇﻦﺍﺮﺘﺒﺘﻢ
١
٢٤
ﺍﻻﺴﺮﺍﺀ
١٥
ﺮﺐﺍﺮﺤﻤﻬﻤﺎ
٢
٢٨
ﺍﻻﻨﺒﻴﺎﺀ
١٧
ﻠﻤﻦﺍﺮﺘﻀﻰ
٣
٧٧
ﺍﻠﺤﺞ
١٧
ﺇﺮﻜﻌﻮﺍﻮﺍﺴﺠﺪﻮﺍ
٤
٥٠
ﺍﻠﻨﻮﺮ
١٨
ﺍﻢﺍﺮﺘﺎﺒﻮﺍ
٥
٤٢٤١
٢٣
ﻋﺫﺍﺐ۞ﺍﺮﻜﺾ
٦

VI. MAKHORIJUL HURUF DAN SIFAT-SIFATNYA
Sebelum kita pelajari dan kita bahas lebih luas mengenai makhroj dan sifat-sifat dari huruf hijaiyyah, maka terlebih dahulu kita fahami tentang huruf-huruf Al-qur’an yang mutawati serta bersumber dari Nabi, terutama bacaan (Qiro’ah) yang mengikuti riwayat Hafsh dari Imam ‘Ashim al Kufi (yakni bacaan yang berlaku di Negara kita ini).
A.    Huruf-Huruf Al-Qur’an
Huruf-huruf Al-qur’an itu apabila dipandang dari segi bacaannya (qiro’ahnya) dalam qiro’ah mutawatiroh yang bersumber dari Rasulullah SAW terdiri dari beberapa huruf. Huruf hijaiyyahnya ada 29 dan masih ditambah lagi dengan cabang-cabangnya yang juga merupakan huruf fasih dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ia juga memiliki ketentuan-ketentuan makhrojnya dan sifat tersendiri.
Adapun huruf yang merupakan cabang dari hijaiyyah ini dalam qiro’ah riwayat Hafsh dari Imam ‘Ashim Al-kufi sangatlah terbatas (yaitu hanya terdapat beberapa tempat saja dalam Al-qur’an), antara lain :
a)      Tashil artinya tebal atau berat yaitu terdapat pada surat Fushilat ayat 44 juz 24 yang berbunyi : ﺍﺍﻋﺠﻤﻲﻮﻋﺮﺒﻲ
b)      Imalah artinya condong (antara harokat fathah dan kasroh), yaitu terdapat pada surat Hud ayat 41 juz 12 berbunyi sebagai berikut : ﻤﺠﺮﺍﺒﻬﺎ
c)      Isymam artinya memcampur atau mengumpulkan yaitu terdapat pada surat Yusuf ayat 11 juz 12 yang berbunyi : ﻻﺘﺄﻤﻨﺎ
d)     Bacaan lam taghlidh yakni bacaan lam yang harus dibaca dengan tebal dan berat yaitu lam yang khusus terdapat pada lam jalalah apabila jatuh setelah harokat fathah dan dhommah contoh surat ﺍﻠﺒﻘﺮﺓ   ayat 255 juz 3 berbunyi : ﺍﷲﻻﺍﻠﻪﺍﻻﻫﻮ

B.     Huruf Hijaiyyah
Huruf hijaiyyah 29 apabila dilihat dari segi bacaannya (qiro’ah) memiliki pengertian dan bagian yaitu Petama Asma’ul huruf dan Kedua Musammayatul huruf. Adapun pengertian dari dua bagian tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Asma’ul Huruf
Asmu’ul huruf yaitu nama dari satu bersatunya huruf hijaiyyah baik huruf hijaiyyah itu masih berdiri sendiri atau telah dirangkaikan dengan huruf yang lain asal belum berharokat (baik harokat hidup atau mati). Nama huruf ini terjadi adalah bersumber dari Rasulullah SAW disebabkan adanya Lahjah lughoqiyah atau dialeh bahasa (logat) karena itu nama huruf ini bisa juga disebut dengan lughotil huruf. Adapun nama-nama huruf hijaiyyah itu terbagi atas tiga bagian yaitu :
1)      Huruf-huruf hijaiyyah yang memang hanya memiliki satu nama yaitu terdiri atas 16 huruf :
ﻋﻴﻦ - ﻀﺎﺪ - ﺼﺎﺪ - ﺸﻴﻦ - ﺴﻴﻦ - ﺬﺍﻞ - ﺪﺍﻞ - ﺠﻴﻢ
ﺍﻠﻑ - ﻮﺍﻮ - ﻧﻮﻦ - ﻤﻴﻢ - ﻻﻢ - ﻜﺎﻒ - ﻘﺎﻒ - ﻏﻴﻦ
2)      Huruf-huruf hijaiyyah yang memiliki empat nama yaitu terdiri atas satu huruf (zak) boleh dibaca :
ﺰﺍﻱ / ﺰﺍ / ﺰﺍﺀ /ﺰﺍﻱ
3)      Huruf-huruf hijaiyyah yang memiliki dua nama yaitu terdiri atas 12 huruf yang istilahnya menggunakan mad dan qosor (panjang dan nama pendek).
a.       Adapun 12 huruf dengan nama yang panjang (mad) adalah sebagai berikut :
ﻄﺎﺀ - ﺮﺍﺀ - ﺨﺎﺀ - ﺜﺎﺀ - ﺤﺎﺀ - ﺘﺎﺀ - ﺒﺎﺀ - ﻫﻤﺰﺓ
ﻔﺎﺀ - ﻴﺎﺀ - ﻫﺎﺀ - ﻈﺎﺀ
b.      Sedangkan 12 huruf  yang dengan nama pendek (qors) adalah huruf-huruf tersebut diatas dihilangkan hamzahnya dan untuk hamzah dihilangkan taknya. 12 huruf tersebut adalah :
ﻔﺎ - ﻴﺎ - ﻫﺎ - ﻄﺎ - ﺮﺍ - ﺨﺎ - ﺤﺎ - ﺜﺎ - ﺘﺎ - ﺒﺎ - ﻫﻤﺰﺓ
Dari keterangan tersebut apabila kita memahami maka tidak ada kemusykilan lagi untuk mengetahui huruf-huruf yang ada pada awal surat seperti :
ﻜﻬﻴﻌﺺ - ﻄﻪ
Mengapa tidak boleh dibaca :
ﻜﺎﻫﺎﻴﺎﻋﺎﺼﺎ- ﻄﺀﻫﺎﺀ
Umpamanya ? sebab ini dibaca dengan asmaul huruf.
Adapun mengenai (ﻴﺎﺀﻫﺎﺀﻄﺎﺀ) ini memang mempunyai dua wajah atau dua lughot, akan tetapi jika digunakan untuk membaca Al-qur’an wajahnya hanya satu yakni yang qors saja, jadi tidak boleh dibaca (ﻴﺎﺀﻫﺎﺀﻄﺎﺀ) dan sebagainya.
Sebab membaca Al-qur’an itu terbatas mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW (tauqify) dan ulama qurro’ tidak ada perbedaan mengenai hal ini (semua membaca qors).

2.      Musammayatul Huruf
Musammayatul huruf adalah yang dinamai huruf yaitu huruf-huruf hijaiyyah setelah menerima harokat dan telah dirangkaikan dengan huruf yang lain. Al-qur’an yang 30 juz itu, semua harus dibaca dengan musammayatul huruf kecuali yang terdapat pada pembukaan beberapa surat (fawatihussuwar) harus dibaca asmaul huruf.
Sekarang umpamanya kita ditanya yang dinamakan huruf jim    () itu yang bagaimana ? kalau ditanyakan huruf mati jawabannya dengan mendatangkan hamzah washol dimukanya seperti : ﺍﺝ - ﺍﺝ - ﺍﺝ
Jika ditanyakan huruf hidup maka harus menambah huruf hak saktah dibelakangnya seperti : ﺠﻪ - ﺠﻪ - ﺠﻪ dan sebagainya.
Contoh dan jawaban ini baik sekali untuk melatih lisan dalam mempelajari membaca huruf dengan fasih dan sempurna, contoh-contoh latihan sebagaimana dibawah ini :

C.    Makhorijul Huruf
Tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyyah itu memang banyak yang berpendapat, tetapi dari sekian banyak pendapat yang paling diikuti oleh ulama qurro’ dan ahlul ada’ adalah pendapa Syekh Kholil bin Ahmad An Nahwiy (guru Imam Sibawen) karena pendapat ini dianggap paling tanzih. Adapun menurut beliau makhrajul huruf hijaiyyah itu ada 17 tempat dan bila diringkas maka tinggal 15 tempat sebagaimana terdapat pada tabel dibawah ini :

MAKHARIJUL HURUF YANG LIMA
No
Nama – Nama
Tempat Makhraj
Jumlah Huruf
1
2
3
4
5
Al-Jaufu (lubang mulut)
Al-Halqu (kerongkongan)
Al-Lisaanu (lidah)
Asy-Syafataini
Al-Khoisyum (janur hidung)
1
3
10
2
1
1
6
18
4
-
Jumlah
17
29

Adapun mengenai huruf yang sam makhrojnya, nanti akan dibedakan dengan sifatnya, penjelasan dari masing-masing makhrajul huruf adalah sebagai berikut :
1.      Al-Jaufu
Yang dimaksud dengan al-Jaufu adalah lubang mulut dan kerongkongan hingga penghabisan udara, ini adalah tempat-tempat keluarnya huruf Mad dan Layyin adapun huruf mad itu ada 3 yaitu :
1)      Alif muthlaq contoh : ﻤﺎﻻ - ﻏﻮﻯ
2)      Wawu sukun jatuh setelah harokat dhommah contoh : ﻘﻮﻠﻮﺍ
3)      Yak sukun jatuh setelah harakat kasroh contoh : ﺤﻤﻴﺪﻴﻦ

Adapun huruf layyin itu ada dua, yaitu : wawu dan yak, keduanya sukun dan keduanya jatuh setelah harokat fathah, contoh : ﺍﻠﻴﻮﻡ  -   ﺍﻠﺨﻴﺮ
Huruf-huruf tersebut lazimnya disebut huruf jaufiyyah artinya huruf-huruf sebangsa lubang mulut.
Keterangan :
1.      Huruf mad yang asli sebenarnya hanyalah satu yaitu Alif muthlaq, adapun Wawu dan Yak menjadi huruf Mad atau Layyin hanyalah merupakan saudara saja dari alif muthlaq (sifatnya hanya temporer) yaitu apabila syarat-syaratnya terpenuhi, yakni bila kedua huruf itu mati/sukun, karena itu bila wawu dan yak tersebut berharokat hidup (berdiri sendiri), maka bukan lagi dikatakan huruf mad dan makhrajnyapun kembali pada asalnya masing-masing yaitu :
·         Wawu () keluar diantara dua bibir (atas dan bawah) serta lazimnya disebut huruf syafawiyah artinya huruf-huruf sebangsa bibir.
·         Yak () keluar dari tengah-tengah lidah tepat, serta menepati dengan langit-langit mulut atas dan lazimnya disebut huruf syajariyah artinya huruf-huruf sebangsa tengah lidah (coba ucapkan kedua huruf tersebut dalam keadaan mati dan hidup kemudian perhatikan dan rasakan makhrajnya.
2.      Yang dimaksud kata muthlaq pada Alif muthlaq adalah bahwa alif itu selamanya pasti sukun dan pasti jatuh setelah harakot fathah, karena itu penulisan alif (dalam al-Qurán) meskipun tidak ada tandanya sukun, ia sudah mati/sukun dengan sendirinya.
3.      Bila ada huruf ditulis bentuknya seperti alif, tetapi berharokat seperti ﺍﻠﺤﻤﺪﷲ    ini bukan alif tetapi hamzah namanya:
4.      Alif itu ada dua macam :
·         Alif mamdudah (yang dipanjangkan) seperti :
ﺎ ﻻ ﻄﺎﻘﺔ ﻠﻨﺎﺒﻪ
·         Alif layyinah (yang lunak) ada yang mengatakan alif bengkok, seperti :
 
ﻮﺍﻠﻨﺠﻢ ﺍﺪﺍﻫﻮ    -     ﻯﻮﻤﺎﻏﻮﻯ
           
2.      Al-Halqu
Pada bagian kerongkongan ini ditempat 3 makhraj dengan tiga pembagian yang istilahnya :
·         Aqsho “artinya bagian panggal
·         Adna “artinya bagian bawah/ujung
Dan nantinya dari kerongkongan ini mengeluarkan 6 huruf yang lazimnya disebut huruf halqiyyah artinya huruf-huruf sebangsa kerongkongan :
v  (ﻫ  -  ﺀ) keluar dari pangkal kerongkongan yang mendekati dengan dada (dua huruf ini makhrajnya paling dalam)
v  (ﺡ  -  ﻉ) keluar dari bawah-bawahnya kerongkongan tepat
v  (ﺥ  -  ﻍ) keluar dari bawah-bawahnya/ujungnya kerongkongan dan yang lebih dekat dengan mulut.

3.      Al-Lisaanu
Pada bagian lidah ini ditempat 10 makhraj dan mengeluarkan 18 huruf, adapun pada bagian lidah ini di bagi atas 4 pembagian yaitu istilahnya :
·         Aqsho                    : bagian pangkal
·         Wasat                    : bagian tengah
·         Hafah                    : bagian tepi
·         Thorfun                 : bagian ujung
10 makhraj dan 18 huruf pada bagian lidah ini adalah :
v  Qof () : Keluar dari pangkal lidah (pada anak-anak mulut) mengarah keatas, serta menepati dengan langit-langit mulut atas.
v  Kaf () : Keluar dari pangkal lidah juga (setelah/bawahnya makhraj)nya qof mengarah kebawah serta menepati dengan langit-langit mulut atas.
v  Jim, Syin, Yak (ﺝ  -  ﺶ  -  ﻱ) : Keluar dari tengah-tengah lidah tepat, serta menepati dengan langit-langit mulut atas. Tiga huruf ini lazimnya disebut huruf syajariyah artinya huruf-huruf sebangsa tengah lidah.
v  Dlod () : Keluarnya dari pangkat tepi lidah (boleh dari lidah sebelah kanan/kiri) hingga sambung dengan makhrojnya huruf Lam, serta menepati gerahan. Syeh Jazari berpendapat bahwa tepi lidah sebelah kiri itu lebih mudah digunakan dan banyak yang menggunakannya, sedang tepi lidah sebelah kanan agak berat dan sedikit yang menggunakannya lebih-lebih menggunakan kedua tepi (kiri/kanan) secara bersamaan sangatlah sulit dan sangat jarang yang menggunakannya. Huruf Dlod ini lazimnya disebut huruf Janbiyah artinya huruf sebangsa tepi lidah.
v  Lam () :  Keluarnya dari tepi lidah (dari tepi lidah sebelah kiri/kanan), hingga penghabisan ujung lidah serta menepati dengan langit-langit mulut atas.
v  Nun () : Keluar dari ujung lidah (setelah makhrojnya lam lebih masuk sedikit kedasar lidah dari pada lam) serta menepati dengan langit-langit mulut atas.
v  Ro’ () : Keluar dari ujung lidah tepat (setelah makhrojnya nun dan lebih masuk kedasar lidah dari pada nun) serta menepati dengan langit-langit mulut atas.
Tiga huruf tersebut diatas (ﻝ ﻦ ﺮ) lazimnya disebut huruf dzalqiyah artinya huruf-huruf sebangsa ujung lidah.
v  Tho’, Tak, Dal (ﻂ ﺖ ﺪ) : keluar dari ujung lidah, serta menepati dengan pangkal gigi dua yang atas.
v  Shod, Sin, Zak (ﻈ ﺚ ﺬ) : keluar dari ujung lidah serta menepati dengan ujung gigi dua yang bawah. Tiga huruf ini lazimnya disebut huruf asaliyah artinya huruf-huruf sebangsa runcing lidah.
v  Dho’, Tsa’, Dzal (ﺬ ﺚ ﻈ) : keluar dari ujung lidah, serta menepati dengan ujung gigi dua yang atas. Tiga huruf ini lazimnya disebut litsawiyah artinya huruf-huruf sebangsa gusi.

4.      Asy-Syafataini
Pada bagian bibir ini ditempati dua makhroj dan mengeluarkan 4 huruf, yaitu :
-          Fa’ () : keluar dari dalamnya bibir yang bawah, serta menepati dengan ujung gigi dua yang atas.
-          Wawu, Bak, Mim (ﻢ ﺐ ﻮ) : keluar diantara dua bibir (antara bibir atas dan bawah), hanya saja untuk wawu bibir membuka, sedang untuk bak dan mim bibir membungkam.
Empat huruf tersebut diatas lazimnya disebut huruf syafawiyah artinya huruf-huruf sebangsa bibir.

RINGKASAN MAKHORIJUL HURUF
AL-HIJA’I (17)
LIS SYEH KHOLIL BIN AHMAD

No
Tempat-Tempat Keluarny Huruf (Al-Makhorij)
Hurufnya
Lazimnya
1
Keluar dari lubang mulut dan kerongkongan hingga penghabisannya
ﺃﺤﺮﻑﺍﻠﻤﺪ
ﻮﺍﻠﻠﻦ

ﺠﻮﻔﻴﺔ
2
Keluar dari pangkal kerongkongan (lebih dekat dengan dada)


ﺨﻠﻘﻴﺔ
3
Keluar dari tengah-tengah kerongkongan tepat
4
Keluar dari ujung kerongkongan (paling bawah) lebih dekat dengan mulut
5
Keluar dari pangkal lidah (pada anak-anak mulut) dan menepati dengan langit-langit mulut atas serta mengarah keatas
ﻠﻬﻮﻴﺔ

6
Keluar dari pangkal lidah (bawahnya qof mengarah kebawah) dan menepati langit-langit mulut atas dan mengarah kebawah
ﻠﻬﻮﻴﺔ
7
Keluar dari tengah-tengah lidah serta menepati dengan langit-langit mulut atas
ﺸﺠﺮﻴﺔ
8
Keluar dari tepi pangkal lidah (sebelah kanan/kiri) serta menepati dengan gigi gerahan dan berjalan hingga sambung dengan makhrojnya lam
ﻠﻬﻮﻴﺔ
9
Keluar dari ujung tepi lidah (sebelah kanan/kiri) dan menepati dengan langit-langit mulut atas
ﺬﻠﻘﻴﺔ
10
Keluar dari ujung lidah (lebih masuk kedasar lidah dari lam) dan menepati dengan langit-langit mulut atas
11
Keluar dari ujung lidah (setelah nun lebih masuk kedasar lidah) dan menepati dengan langit-langit mulut atas
12
Keluar dari ujung lidah serta menepati dengan ujung gigi dua yang diatas
ﻨﻄﻌﻴﺔ
13
Keluar dari ujung lidah serta menepati dengan ujung gigi dua yang bawah
ﺍﺴﻠﻴﺔ
14
Keluar dari ujung lidah serta menepati dengan ujung gigi dua yang atas
ﻠﺜﻮﻴﺔ
15
Keluar dari dalamnya bibir yang bawah serta menepati dengan ujung gigi dua yang atas
ﺸﻔﻮﻴﺔ

16
Keluar diantara dua bibir (atas & bawah) untuk bak, mim membungkam, wawu membuka
ﺸﻔﻮﻴﺔ
17
Keluar dari janur hidung (Al-Khoisyum)
ﺍﺤﺮﻑﺍﻠﻐﻨﺔ
ﺧﻴﺸﻮﻴﺔ

Keterangan :
Halqiyyah                                : Huruf tenggorokan
Janbiyyah                                : Huruf tepi lidah
Dzalqiyyah                              : Huruf ujung lidah
Nath’iyyah                               : Huruf kulit gusi atas
Asaliyyah                                 : Huruf runcing lidah
Lahawiyah                              : Huruf atas telak lidah
Syajariyah                               : Huruf tengah lidah
Jaufiyyah                                 : Huruf lobang hidung
Litsaniyyah                              : Huruf gusi
Syafawiyah                              : Huruf bibir
Khoisyum                                : Huruf janur hidung

D.    Sifat-Sifat Huruf
Setelah kita kaji makhorijul huruf ternyata kita menjumpai satu makhroj tetapi sampai tiga huruf yang keluar dari padanya, untuk membedakan huruf yang makhrajnya sama sedangkan suara atau bunyinya tidak sama adalah dilihat dari sifat-sifatnya.
Adapun yang dimaksud dengan sifat-sifat huruf adalah keadaan huruf yang sebenarnya. Ada juga yang memberi arti watak/karakter huruf (antara huruf kuat, sedang dan lemah). Sifat-sifat huruf secara garis besar dibagi menjadi dua bagian :
1.      Sifat Lazimah
Yang dimaksud dengan sifat lazimah adalah sifat bacaan yang tetap ada pada satu persatuannya huruf, baik huruf-huruf tersebut masih berdiri sendiri atau telah dirangkaikan dengan huruf-huruf lain.
Sifat al-alzimah itu ada 19 macam  yang akan dijelaskan dibawah ini :
a.       Bahwa 19 sifat al-lazimah itu hanya untuk menyifati 28 huruf hijaiyyah (selain alif), alasannya alif itu huruf yang lemah ia tidak mampu berdiri sendiri (menerima harokat), ia mampu berdiri bila mengikuti dengan huruf sebelumnya. Karena itu sifatnya mengikuti huruf sebelumnya yakni apabila sebelumnya berupa huruf tebal maka alif ikut tebal contoh : ﻂﺎ ,ﻘﺎ, dan apabila sebelumnya berupa huruf tipis maka alif ikut menjadi tipis oleh karena itu alif tidak perlu memiliki sifat al-lazimah.
b.      Bahwa 19 sifat al-lazimah itu tetap untuk mensifati 29 huruf hijaiyah (menetapkan alif) alasannya alif itu memiliki makhroj maka ia berhak untuk memiliki sifat al-lazimah.
19 sifat al-lazimah tersebut ada yang berlawanan (antara sifat-sifat kuat lawan katanya sifat) yaitu berjumlah 10 sifat sedang yang 9 sifat lainnya tidak berlawanan.
19 sifat al-lazimah tersebut secara keseluruhan dibagi menjadi dua bagian :
1)      Sifat qowiy : yaitu bagian sifat-sifat kuat (huruf-huruf dibaca berat, nafas ditahan dan dibaca tebal) yaitu ada 12 sifat.
2)      Sifat dlo’if yaitu sifat-sifat huruf yang lemah (huruf-hurufnya ringan, udara bebas keluar saat mengucapkannya dan dibaca tipis) adapun sifat yang dlo’if ini ada 7, sebagaimana terjadwal dibawah ini.

2.      Sifat Al-‘Aridloh
Yang dimaksud sifat al-aridloh adalah sifat bacaan yang baru timbul dan terjadi dari sifat al-lazimah (pada huruf) setelah huruf-huruf itu dirangkaikan dengan huruf-huruf lain, seperti tafkhimul mustaál, tarqiqul mustafil yakni tebalnya huruf-huruf isti’la’ dan tipisnya huruf-huruf istifal dan juga tafkhim dan tarqiqnya lam ro’ dan juga semua bacaan yang sudah tersusun sebab bertemu dengan huruf yang lain, baik dalam bacaan ikhfa’, iqlab atau idghom (asal tidak pada bacaan idhar)


Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments